Sunday, January 11, 2009

Krisis Pangan Dunia

Waspada, Krisis Pangan Melanda Dunia Tahun 2100

Washington: Separuh penduduk di planet bumi akan kelaparan pada akhir abad 21. Krisis pangan akan melanda dunia karena perubahan iklim yang sudah mulai dirasakan sejak sekarang.

Menurut peneliti, kemungkinan ini mencapai 90 persen bahwa pada tahun 2100 di wilayah tropis maupun sub-tropis, suhu akan meningkat lebh dari suhu maksimum saat ini.

“Tekanan suhu udara pada produksi makanan global akan berpengaruh kuat, di samping itu suplai air juga akan terhambat karena suhu yang lebih tinggi,” ujar David Battisti, peneliti atmosfer dari Universitas Washington.

Profesor Rosamond Naylor dari Stanford menambahkan, bahwa sejarah telah memperlihatkan masa depan akan semakin buruk jika manusia tidak bisa beradaptasi. “Kami ambil kemungkinan terburuknya,” ujar direktur program Kemanan Pangan dan Lingkungan.

Di negara tropis, suhu akan semakin panas dan ini akan menekan produktivitas panen padi mencapai 20-40 persen. Sekitar tiga miliar penduduk –separuh jumlah penduduk planet bumi-- hidup di daerah tropis dan sub tropis akan mengalami bencana pangan luar biasa. Daerah ini seperti, India Utara, Cina Selatan, Australia dan negara-negara Afrika. Selain itu juga akan menimpa Amerika Serikat bagian selatan,Argentina Utara dan Brasil selatan.

http://tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/01/09/brk,20090109-154476,id.html

Saturday, November 15, 2008

Osteoporosis Cegah dengan Olahraga

OSTEOPOROSIS selama ini diidentikkan dengan penyakit orangtua, padahal tanpa olahraga teratur, osteoporosis juga bisa menyerang usia muda.
[Detail...]

Presiden: Agar Indonesia Maju Rakyat harus Sehat

JAKARTA--MI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, jika bangsa Indonesia ingin maju maka rakyat Indonesia harus sehat jiwa dan raga.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono saat melepas sekitar 10 ribu peserta gerak jalan dalam rangka peringatan Hari Osteoporosis Nasional, di lapangan Monas, Jakarta, Minggu.

"Apabila bangsa kita, rakyat kita, sehat badan dan jiwanya, kuat imannya, cerdas pikirannya, rukun bersama-sama saudaranya, dan kerja keras, hanya dengan itu bangsa Indonesia akan maju," ujarnya
[Detail...]

Di Dunia Setiap Detik Satu Orang Alami Kebutaan

Di Dunia Setiap Detik Satu Orang Alami Kebutaan
BANDUNG--MI: Di dunia ini, setiap detik ada satu orang mengalami kebutaan, sedangkan setiap satu menitnya ada seorang anak mengalami kebutaan.

Demikian dikatakan anggota Komite Nasional Vision 2020 Dr dr Farida Sirlan dalam Seminar Nasional Vision 2020; Hak untuk Melihat bagi Setiap Orang, yang diadakan Yayasan Syamsi Dhuhaha di Bandung, Sabtu (8/11).
[Detail...]

Tertawa

Di samping sebutan makhluk yang berbicara, manusia juga dikenal sebagai makhluk yang tertawa. Tawa dan senyum bersifat asasi, muncul sejalan dengan kemanusiaan kita. Ia menjadi ''bahasa'' komunikasi dalam keseharian hidup kita. Begitu dekatnya tawa dengan kita, hingga orang yang hilang akal sekalipun masih tetap bisa tertawa. Alquran menyatakan: ''Dan bahwasannya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis'' (QS, 53;43).
[Detail...]

Agar Sehat Ditempat Kerja

Jakarta: Buruh pengeboran itu datang ke dokter dengan keluhan sesak napas dan kemampuan gerak tubuhnya melambat. Dokter Jusuf, yang memeriksa pria 29 tahun bernama Sumantri itu, merujuknya ke rumah sakit agar menjalani pemindaian. Hasilnya, paru Sumantri terlihat mulai mengeras. Dia terbukti terkena asbestosis—penyakit karena menghirup serat asbes yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut (fibrosis) di dalam paru.
[Detail...]

Wednesday, November 12, 2008

Agar Sehat Ditempat Kerja

Jakarta: Buruh pengeboran itu datang ke dokter dengan keluhan sesak napas dan kemampuan gerak tubuhnya melambat. Dokter Jusuf, yang memeriksa pria 29 tahun bernama Sumantri itu, merujuknya ke rumah sakit agar menjalani pemindaian. Hasilnya, paru Sumantri terlihat mulai mengeras. Dia terbukti terkena asbestosis—penyakit karena menghirup serat asbes yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut (fibrosis) di dalam paru.

Asbestosis membuat jaringan paru-paru tidak dapat mengembang dan mengempis dengan baik. ”Jika tak segera ditangani, bisa mengakibatkan kematian,” kata dokter Jusuf. Beruntung Sumantri bukan perokok sehingga terhindar dari penyakit kanker paru-paru. Seandainya tak memeriksakan diri lebih awal, Sumantri juga bisa terkena mesotelioma peritoneal—penyakit ganas dan tak bisa disembuhkan lantaran menghirup asbes dalam jangka waktu lama.

Kasus yang menimpa Sumantri, menurut Suryo Wibowo, seorang dokter spesialis kesehatan kerja (occupational medicine), merupakan salah satu dari lima jenis penyakit akibat kerja. Masih ada penyebab lain: fisik, biologis, ergonomi, dan psikososial.

Bagi seorang dokter kesehatan kerja, penelusuran riwayat si pasien, baik pekerjaan maupun kehidupan sehari-harinya, merupakan langkah penting agar bisa mengambil tindakan yang tepat. Dokter kesehatan kerja bukan hanya bertugas menyembuhkan pasien. Mereka juga harus mencegah agar penyakit tidak menyebar dan menurunkan kemampuan kerja seseorang ataupun pekerja lain.

Bila suatu kantor atau perusahaan meminta pemeriksaan kesehatan tahunan, seorang dokter kesehatan kerja wajib hukumnya turun ke lapangan. ”Tak bisa hanya di belakang meja menganalisis data kesehatan pekerja,” ujar dokter Suryo.

Tatkala karyawan bagian produksi mengeluh sakit pinggang, misalnya, dokter kesehatan kerja harus melakukan survei secara langsung untuk mengetahui cara mereka bekerja. ”Rupanya karena mesin di bagian produksi didatangkan dari Eropa,” dokter Suryo menambahkan. ”Ukuran tingginya standar orang Eropa, sehingga timbul ketidaksesuaian antara mesin dan manusia.”

Posisi bekerja yang tidak ergonomis itulah yang menyebabkan sakit pinggang. Untuk mengatasinya, tak perlu diberi obat atau tindakan medis lain. ”Jalan keluarnya, misalnya, pekerjanya harus pakai dingklik,” kata kandidat doktor kesehatan kerja itu.

Dalam kasus Sumantri, asbestosis dapat dicegah dengan mengurangi kadar serat dan debu asbes di lingkungan kerja. Pekerja bisa diwajibkan memakai alat pelindung diri agar tak menghirup debu tersebut. Untuk mengurangi risiko terkena kanker paru-paru, para pekerja yang berhubungan dengan asbes dianjurkan berhenti merokok.

Agar sumber penyakit tak menyebar ke anggota keluarga, setiap pekerja disarankan mencuci pakaian kerjanya di pabrik dan menggantinya dengan pakaian bersih saat kembali ke rumah. Semua pakaian kerja tidak ada yang dibawa pulang dan pekerja membersihkan diri atau mandi sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Bahaya lain yang sering terjadi pada pekerja, terutama di tempat pembakaran, adalah terhirupnya gas karbon monoksida. Gas yang dihasilkan dari proses oksidasi bahan bakar yang tidak sempurna itu biasanya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak menyebabkan iritasi. Gas beracun tersebut memasuki tubuh melalui pernapasan dan diserap ke dalam peredaran darah.

Karbon monoksida akan berikatan dengan hemoglobin (yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh) menjadi carboxyhemoglobin. Gas itu mempunyai kemampuan berikatan dengan hemoglobin 240 kali lipat kemampuannya berikatan dengan oksigen.

Persaingan berebut hemoglobin ini akan menyebabkan pasokan oksigen ke seluruh tubuh menurun tajam sehingga melemahkan kontraksi jantung dan menurunkan volume darah yang didistribusikan. Konsentrasi rendah (<>ppmv ambient) dapat menyebabkan pusing-pusing dan keletihan. Adapun konsentrasi tinggi (> 2.000 ppmv) dapat menyebabkan kematian. ”Padamnya listrik di Carrefour Ratu Plaza, Jakarta Selatan, yang menyebabkan para karyawannya pingsan, merupakan salah satu contohnya,” ujar dokter Suryo.

Penyakit akibat kerja bukan hanya terjadi pada pekerja kerah biru, tapi juga bisa terjadi pada pegawai kantoran. Dokter Suryo, misalnya, menunjuk pasiennya: seorang sekretaris yang terkena penyakit carpal tuner syndrome—suatu keadaan terjadinya peningkatan penekanan saraf pada pergelangan tangan yang mengakibatkan iritasi dan kelelahan pada ruam di antara jari tangan.

Gejalanya berupa rasa nyeri, terbakar, serta kesemutan di jari-jari dan tangan yang terkadang menjalar ke siku. Senut-senut kian terasa di malam hari, bahkan kadang bisa membangunkan penderita. Orang yang berisiko terkena penyakit itu adalah pengguna komputer yang melakukan gerakan berulang pada pergelangan tangan. Namun peringkat tertinggi dalam daftar kesehatan kerja, menurut dokter Suryo, berupa keluhan nyeri punggung dan bahu.

Lantaran kebutuhan memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja itulah, tenaga medis kesehatan kerja mulai dilirik. Pertemuan ISO on Occupational Health and Safety Management di Jenewa, Swiss, September 1996, mengatur penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara internasional merupakan salah satu syarat bagi semua jenis industri. Dua tahun setelah itu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mulai berencana mengembangkan program pendidikan spesialis kedokteran okupasi.

Program itu awalnya hanya berupa kursus-kursus singkat untuk tenaga medis yang sudah ada. ”Saya angkatan kedua spesialis kedokteran kesehatan,” ujar dokter Suryo, yang baru lulus tahun lalu. Di Amerika Serikat, kedokteran kesehatan sudah mulai dikembangkan sejak 1970-an. Saat itu didirikan The National Institute for Occupational Safety and Health.

Dalam perkembangannya, dokter kesehatan kerja tak hanya dilibatkan dalam penanganan kesehatan pekerja semata. Mereka juga ikut serta dalam merancang pabrik. Dokter okupasi harus melihat data pekerja. Contohnya, pegawai dengan tubuh paling gemuk harus bisa melewati pintu darurat atau gang-gang di sekitar mesin jika terjadi situasi gawat di pabrik tersebut.

”Kami harus dilibatkan untuk mengurangi risiko jika terjadi sesuatu,” kata dokter Suryo. Bila terjadi kebakaran, harus dipersiapkan pula jalur evakuasi. ”Jangan sampai terjadi tabrakan atau bahaya lain karena adanya bahan kimia yang terbawa angin,” dia menambahkan. Dengan melibatkan dokter okupasi, risiko terganggunya kesehatan akibat kerja diharapkan bisa dikurangi. Tempat bekerja seyogianya memang tak menjadi sumber duka para pekerja.

Ahmad Taufik

Tertawa

Di samping sebutan makhluk yang berbicara, manusia juga dikenal sebagai makhluk yang tertawa. Tawa dan senyum bersifat asasi, muncul sejalan dengan kemanusiaan kita. Ia menjadi ''bahasa'' komunikasi dalam keseharian hidup kita. Begitu dekatnya tawa dengan kita, hingga orang yang hilang akal sekalipun masih tetap bisa tertawa. Alquran menyatakan: ''Dan bahwasannya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis'' (QS, 53;43). Banyak peristiwa sosial dalam panggung sandiwara kehidupan yang membuat kita tertawa. Kejelekan, kemalangan, penyimpangan perilaku, kelucuan, sindiran, hal yang tak masuk akal, hingga kekonyolan diri kita sendiri, mudah berubah menjadi bahan tertawaan. Dalam konteks Islam, tawa harus diletakkan secara''pas''. Tawa yang islami bukanlah menertawakan kemalangan orang lain, karena memang tidak dibenarkan, melainkan tawa yang tetap berada dalam batas-batas kesopanan dan kebenaran.

Dalam konsep Islam tawa dipandang bukan sekadar pintu ''pelepasan'' dari ketegangan. Tapi ia juga dianggap sebagai ungkapan sosial dari rasa cinta, kegembiraan, dan kebersamaan. Malah Allah memperingatkan bahwa mereka yang tidak mau ''bersama-sama'' berjihad di jalan Allah bersama Nabi, hendaklah tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai balasan dari apa yang mereka kerjakan (QS, 9:82). Dalam hadis riwayat Thabrani diceritakan bahwa Nabi Muhammad senang tertawa dan bersenda gurau. Tapi Nabi tidak akan melakukan sesuatu hal melainkan yang hak. Nabi Sulaeman juga begitu sering tertawa. Salah satu tawa sang nabi yang diabadikan dalam Alquran adalah ketika beliau mendengar teriakan seekor semut yang mengomandoi kawan-kawannya untuk masuk sarang agar tidak terinjak Nabi Sulaeman dan bala tentaranya. (QS, 27:19).

Berbagai penelitian ilmiah menyimpulkan bahwa tertawa memperkokoh kesehatan. Ketika kita tertawa, otak kita mengalami relaksasi. Pikiran kita menjadi segar kembali. Dan kita siap menghadapi tugas-tugas hidup berikutnya. Hidup memang mesti dijalani dan dimaknai dengan sebaik-baiknya. Namun tanpa mengurangi hal tersebut, hidup juga berarti panggung komedi (laibun wa lahuwun). Alquran mengatakan hidup hanyalah permainan dan senda gurau. Lalu mengapa kita mesti tegang, putus asa, dan hendak bunuh diri ketika kita gagal meraih sesuatu? Tidakkah lebih baik kita tertawa dan tetap tawakal?

Walhasil, dalam perjuangan hidup, kita percaya bahwa hidup menjadi lebih meriah kalau kita tetap bisa tertawa. Tawa menjadi makanan jiwa kita. Menyentuh sisi emosionalitas setiap diri. Tanpa tawa hidup menjadi gersang, kemanusiaan menjadi tandus dan rasa menjadi tumpul. Karena itu bermurah hatilah untuk tertawa. Tawa yang wajar membuat hati menjadi senang. Lebih dari itu, tawa yang disertai pengingatan kepada Allah membuat hati menjadi tenang. (ah)[republika.co.id]

Tuesday, November 11, 2008

Di Dunia Setiap Detik Satu Orang Alami Kebutaan


Di Dunia Setiap Detik Satu Orang Alami Kebutaan
BANDUNG--MI: Di dunia ini, setiap detik ada satu orang mengalami kebutaan, sedangkan setiap satu menitnya ada seorang anak mengalami kebutaan.

Demikian dikatakan anggota Komite Nasional Vision 2020 Dr dr Farida Sirlan dalam Seminar Nasional Vision 2020; Hak untuk Melihat bagi Setiap Orang, yang diadakan Yayasan Syamsi Dhuhaha di Bandung, Sabtu (8/11).

Menurutnya, manusia yang hidup di negara berkembang seperti Indonesia memiliki potensi lebih besar mengalami kebutaan daripada manusia yang tinggal di negara industri.

Dikatakannya, setidaknya ada sekitar tujuh juta orang mengalami kebutaan setiap tahunnya di dunia ini. Di Indonesia sendiri, kebutaan terjadi pada 1,5 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar tiga juta orang.

"Katarak menjadi penyebab utama kebutaan di negara ini," katanya kepada pers

Ia menilai, dukungan yang diberikan pemerintah untuk penanganan masalah kebutaan di Indonesia hingga saat ini masih sangat minim.

Jika tidak ada dukungan nyata dari pemerintah yang ada di setiap negara, termasuk Indonesia, bukan tidak mungkin tahun 2020 manusia yang mengalami kebutaan jumlahnya mencapai 75 juta orang, ujarnya.

Oleh karena itu, melalui Program Vision 2020, pihaknya berharap pemerintah dapat meningkatkan perhatian untuk masalah kebutaan melalui kebijakan-kebijakannya. Selain itu, ia juga akan terus mengampanyekan Program The Right to Sight for All People di seluruh dunia. (Ant/OL-02)

Sumber: Republika Online -- Humaniora - Kesehatan -- Minggu, 09 2008

Presiden: Agar Indonesia Maju Rakyat harus Sehat


JAKARTA--MI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, jika bangsa Indonesia ingin maju maka rakyat Indonesia harus sehat jiwa dan raga.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono saat melepas sekitar 10 ribu peserta gerak jalan dalam rangka peringatan Hari Osteoporosis Nasional, di lapangan Monas, Jakarta, Minggu.

"Apabila bangsa kita, rakyat kita, sehat badan dan jiwanya, kuat imannya, cerdas pikirannya, rukun bersama-sama saudaranya, dan kerja keras, hanya dengan itu bangsa Indonesia akan maju," ujarnya.

Lebih lanjut Presiden mengatakan, sehat itu berada dalam hati dan pikiran, niat dan kegiatan sehari-hari.

"Kalau kita ingin sehat pikirannya, hatinya, kegiatannya, terus-menerus, insya Allah akan memberikan kesehatan pada kita," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, osteoporosis adalah penyakit yang dijuluki sebagai silent epidemic diseases karena menyerang secara diam-diam tanpa adanya tanda-tanda khusus sampai penderita patah tulang.

"Meningkatnya kejadian osteoporosis disebabkan meningkatnya usia harapan hidup, dan tingginya faktor risiko karena rendahnya komsumsi kalsium rata-rata masyarakat Indonesia," katanya.

Konsumsi kalsium rata-rata masyarakat Indonesia sebesar 254 mg/hari. Jumlah ini hanya seperempat dari standar internasional yaitu 1000-2000 mg/hari untuk orang dewasa.

Penyebab osteoporosis lainnya adalah kurang aktivitas fisik, kurangnya paparan sinar matahari pagi dan sore, kebiasaan merokok, serta mengomsumsi alkohol.

Sebelum melepas peserta gerak jalan, Presiden Yudhoyono yang didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla melakukan senam pemanasan bersama.

Presiden beserta rombongan juga turut melakukan gerak jalan.

Para peserta akan menempuh kegiatan gerak jalan 10 ribu langkah dengan rute Monas, bundaran HI, dan kembali ke Monas.

Kegiatan berjalan kaki 10 ribu langkah itu juga akan dilakukan oleh masyarakat di Banjarmasin, Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, Denpasar, Lombok dan sejumlah kota lain. (Ant/OL-06)Humaniora - Kesehatan

Sumber: Republika Online -- Minggu, 02 2008